Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan
kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar,
anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun
harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap
dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak
saya jadi enggak fleksibel.
Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil
melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau
selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah,
pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah
dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka
baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat,
saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai
"prosedur".
Kita mempelajari sebagian besar tingkahlaku kita
sebagai orangtua dari orangtua kita. Kita mengasuh anak kita berdasarkan cara
kita dulu diasuh. Kita mendisiplinkan anak kita dengan cara seperti kita telah
didisiplinkan. Kebanyakan ide yang pernah kita pelajari dari orangtua kita akan
bermanfaat. Akan tetapi, sebagian ada yang tidak.
Kita perlu mengambil dan memilih di antara
metode-metode itu. Kita juga belajar dengan cara mengamati orangtua-orangtua
lain untuk mencari gagasan yang bagus. Kita berbagi teknik-teknik yang terbukti
berhasil. Kita juga belajar berdasarkan coba-coba. Cara kita menghadapi
anak-anak, sebagian besar berdasarkan pada perkiraan-perkiraan terbaik pada
waktu itu. Ada yang berhasil, ada yang gagal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar