Subuh-subuh begini, lumayan berat buat Kakak untuk
salat subuh. Kami pun bersama mengucapkan doa bangun tidur. Tak hanya lafaz
doanya dalam bahasa Arab, tapi sekalian dengan terjemahannya: segala puji bagi
Allah yang telah menghidupkan aku setelah aku mati. Setelah itu berlanjutlah
dialog, apakah memang orang tidur itu mati? Saya menjawab sederhana saja, orang
tidur dalam banyak hal sama dengan orang mati: tidak bisa bicara, tidak
melihat, tidak mendengar. Dan memang tidaklah mustahil orang tidur tidak bangun
lagi, dan karenanya sudah sepatutnya kita bersyukur kalau bisa bangun lagi.
Mata anak-anakku adalah langit.. tempat matahari melengkung pelangi. Mata anak-anakku adalah kabut.. terlukis gerimis sore hari. Mata anak-anakku adalah surga, yang kucipta dalam rumah cinta penuh warna ...
Dengarkanlah Dengan Mata, Telinga, Hati
Hari ini Saya pergi menghadiri hari presentasi siswa-siswi di sekolah Kakak. Melihat tak begitu banyak orang tua hadir di lingkungan sekolah, sepertinya, hari ini adalah giliran anak kelas satu. Saya pikir terlambat, tapi ternyata tidak. Ketika Saya masuk ke dalam kelas, Bu Rahma yang bertugas sebagai pembuka acara hari itu, baru akan mulai memberikan penjelasan kepada seluruh hadirin sekelas tentang acara presentasi tersebut.
Jalan Menuju Surga
Maukah Anda menjadi orangtua
idaman? Orangtua yang selalu diingat, dirindu, dinanti, dibela, ditaati,
dicintai, dan didoakan setiap saat oleh anak-anak Anda? Maukah Anda dilayani
para bidadari dan wildan ketika anda berada di liang lahat karena amal sholeh
yang dilakukan anak Anda? Maukah Anda dihidangkan berbagai makanan dan minuman
yang lezat dan menyenangkan di akhirat kelak atas ilmu yang Anda ajarkan kepada
putra dan putri Anda di dunia? Anda tidak boleh mempersalahkan anak-anak karena bosan. Mereka akan selalu
memikirkan sesuatu yang tidak siap Anda hadapi. Menjadi orangtua itu banyak
tuntutannya. Menjadi orangtua menuntut pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya
dan kerja keras terus-menerus.
Konflik dengan Teman Bermain
Berteman merupakan salah satu
kebutuhan penting pada masa remaja. Keberhasilan menjalin relasi dengan teman
sebaya jelas memberikan banyak manfaat bagi perkembangan kepribadian seorang
remaja. Akan tetapi, tentu saja orangtua menjadi cemas ketika anaknya dekat
dengan teman yang perilakunya tidak baik atau kurang sesuai dengan nilai-nilai
yang dipegang orangtua. Orangtua khawatir anaknya akan meniru tingkah laku yang
tidak baik dari teman.
Sesungguhnya, karakter telah
terbentuk pada usia 12 tahun. Di atas usia itu, karakter sukar untuk berubah
secara drastis. Ini berarti, jika sebelum usia itu anak telah mendapat
pendidikan moral yang baik, anak cenderung akan mempertahankan nilai-nilai moral
yang baik pada masa selanjutnya, atau dengan kata lain, dampak pertemanan yang
buruk menjadi kecil kemungkinannya untuk mengubah karakter moralnya.
Langganan:
Postingan (Atom)



