Menyetrap saat jauh dari rumah
Disiplin berawal dari rumah. Kalau Anda bersikap
positif dan konsisten, anak Anda pasti akan jadi lebih baik. Buatlah anak-anak
Anda tahu bahwa Anda bersungguh-sungguh dengan apa yang Anda katakan.
Alternatif lain adalah berjanjilah pada anak bahwa penyetrapan akan dilakukan
bila sudah sampai di rumah. Jangan mengancam! Cukup berjanji! Kalau Anda bersikap konsisten terhadap
penyetrapan di rumah dan di muka umum, perilaku anak Anda akan membaik.
Penyetrapan untuk Dua Anak
yang Nakal
Hindari perbantahan siapa yang lebih dulu karena
akan menjurus kepada perbantahan yang makin hebat dan lebih banyak
pertengkaran. Kalau dua-duanya bertingkah nakal, dua-duanya harus dihukum.
Penyetrapan untuk balita
Anda dapat menggunakan penyetrapan pada anak-anak
anatara satu dan dua tahun, tapi berhati-hatilah. Anak-anak pada usia-usia ini
tidak sepenuhnya memahami bahasa. Anak-anak pada usia ini tidak tahu mana yang
benar mana yang salah. Jangan menganggap tindakan-tindakan mereka sebagai suatu
kenakalan. Gunakanlah penyetrapan untuk mengajar anak-anak Anda apa yang dapat
diterima dan apa yang tidak bisa diterima.
Selama penyetrapan berlangsung, orang tua harus tetap mengawasi anak tapi
bukan berarti menemani. Karena merasa kasihan, maka si anak ditemani, ya,
enggak ada gunanya. Cukup awasi dari jauh saja dan nada bicara kita dilakukan
dengan agak formal. Misal, ibu sedang masak di dapur dan anak disetrap duduk di
sofa.
Pengawasan ini berguna agar anak tak malah main sendiri atau melakukan
hal-hal yang membahayakan dirinya dan lingkungannya. Bisa juga kala si ibu
meleng, ia meleletkan lidahnya ke arah ibunya, meledek-ledek ibunya. Iya, kan?
Nah, dengan diawasi, ia tak punya kesempatan untuk melakukan itu semua.
Panduan Untuk Menyetrap
Sebaiknya orang tua kembali bersikap normal agar hukuman tak membuat anak
merasa dibuang. Jangan juga tetap bersikap menakutkan karena hanya akan membuat
anak takut terus dalam menghadapi orang tuanya. Jadi, bersikaplah biasa saja.
Misal, tetap menawarinya makanan, mengajaknya bermain, dan sebagainya. Dengan
demikian, anak pun akan mengerti bahwa orang tuanya sudah biasa saja.
Sebaliknya, jangan malah timbul rasa kasihan sampai anak diberi perhatian
ekstra, dipeluk-peluk, dan sebagainya. Ini malah akan mengacaukan apa yang
sudah didapat anak. Ia juga bisa berpikir bahwa ia akan mendapat perhatian yang
lebih baik setelah perbuatan jeleknya. Akhirnya, lain kali ia akan melakukan
hal jelek terus agar dihukum lagi, karena ia tahu setelah itu ibunya akan lebih
memperhatikan dirinya. Runyam, kan? Misi dari hukuman tersebut juga tak
berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar