Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Like ”like mother like daughter atau like father like son” Perilaku anak adalah cerminan perilaku orangtuanya. Pepatah yang kerap dijadikan bahan guyonan tatkala orangtua dihadapkan pada perilaku “unik” anak. Anak-anak saya sering menciptakan situasi-situasi yang menantang. Menantang emosi maksudnya. Marah, menangis, bertengkar, berteriak, merajuk, menjerit, melempar. Uuuh, ampuuun… hampir habis rasanya kesabaran saya.
Seringkali saya pun merasa kecewa dan kecil hati.
Kecewa karena saya merasa telah gagal menjadi ibu yang baik. Saya telah gagal
“menciptakan” anak-anak yang baik dan penurut. Kemarahan mereka, pembangkangan,
ledakan-ledakan emosi, kemalasan, nyaris membuat saya frustrasi. Oh, saya
bertanya pada diri sendiri, apakah yang salah dengan diri saya sebagai
orangtua? Kadang-kadang, saya merasa malu dan bersalah dengan kondisi ini.
Bagaimana tidak? Anak-anak kitalah yang menjadi
tolok ukur keberhasilan dan nilai-nilai kita. Kita menilai diri kita sendiri
berdasarkan sukses dan prestasi mereka. Jujur saya akui bahwa saya termasuk ibu
yang keras, dan (selalu) tidak sabar. Komunikasi yang terjadi pun tak lebih
dari serentetan perintah, larangan, dan tata tertib (serem ya?). Harus begini,
tidak boleh begitu. Jangan yang ini, harus yang itu. Kenapa begini, kenapa
begitu. Anak-anak saya pun memberontak, sehingga tak jarang, terjadilah perang
mulut dan adu argumentasi antara saya dan ketiga anak saya yang lucu-lucu itu.
Huufft…
Keinginan semua orangtua bahwa
anak-anak kita kelak menjadi sukses. Kita ingin mereka bahagia dan pandai
menyesuaikan diri. Kita ingin mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.
Ingin mereka menjadi anak yang soleh dan beriman, bisa hidup mandiri, bebas
dari pengaruh buruk lingkungan dan budaya negatif, meneruskan mimpi ayah atau
ibunya yang belum terwujud, dan segudang keinginan-keinginan lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar