Menghentikan Kebiasaan Buruk Anak

Anak  yang selalu merengek dan ngambek, bukan hanya karena dirinya bertabiat buruk. Bisa jadi anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orangtua. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak pun sudah memiliki banyak harapan dan keinginan. Bila harapan ini tak tercapai, seperti orang dewasa pula, anak akan menampakkan sebuah bentuk rasa kecewa. Namun, wujud dari rasa kecewanya itu tentu saja berbeda dengan yang dilakukan orang dewasa. Anak akan cenderung menampakkannya dengan tangisan dan rengekan.
Merengek dengan suara keras berlaku efektif karena orang tua tidak bisa mengabaikan hal itu. Perilaku merajuk pada anak ini bukan sebuah strategi yang telah tertanam dalam diri anak, tetapi ini merupakan bagian dari cara dia belajar, di mana orang tua sering kali memainkan peranan. Jika seorang anak meminta sesuatu dengan cara yang sopan dan orang tua tidak merespons saat pertama atau kedua kalinya, anak akan menambah volume suaranya.
Seorang anak kecil dapat berteriak atau bahkan mengamuk; tetapi anak yang lebih tua, yang memiliki kontrol diri lebih baik, cenderung merengek. Untuk menghindari rengekan, orang tua disarankan untuk tidak menunggu sampai anak-anak yang dalam kesulitan tersebut makin marah.
Jika Anda sedang menelepon atau di tengah percakapan, lakukan kontak mata dengan anak Anda dan pegang jarinya. Jadi, dia tahu Anda akan selalu bersamanya. Kemudian, berikan anak Anda perhatian segera setelah Anda dengan sopan menyetop sementara perbincangan dengan lawan bicara.
Ketika merengek akhirnya tetap terjadi, orang tua harus menarik napas dalam-dalam dan mengingatkan diri bahwa anak tidak mencoba menjadi menjengkelkan, tetapi hanyalah untuk meminta bantuan. Jika suatu kali Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak, kemukakan pendapat Anda secara tegas tetapi dengan lembut. Jangan membentaknya, apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak pantas. Mengatur emosi adalah hal yang harus Anda lakukan.
Abaikan pula rasa malu, misalnya karena dilihat banyak orang di tempat umum seperti di pertokoan atau di sekolah. Ingatlah bahwa ini adalah tahap penting dalam perkembangan emosi anak. Menjelaskan alasan mengapa Anda melarang dan menahan keinginan anak adalah hal yang harus Anda lakukan. Jangan pernah lemah, seperti langsung luluh hati dan mengabulkan permintaan anak hanya karena tak sanggup menghadapi rengekan anak.
Jika anak Anda terus merengek, dan Anda yakin itu bukan dari rasa nyeri atau sakit dalam tubuhnya, maka inilah saat orang tua untuk introspeksi. Karena bisa jadi, di balik perilaku cengeng mereka, anak ingin menyampaikan pesan yang lebih besar dari itu. “Tanyakan pada diri sendiri, apakah saya terlalu sibuk dari biasanya? Atau apakah rutinitas anak saya yang berubah? Apakah anak yang lain juga membutuhkan perhatian lebih? Sering merengek adalah sinyal untuk saatnya berhubungan kembali dengan anak Anda.

Jangan Membuat Pembelaan
Jika Anda mengemukakan dalih, Anda akan menyiratkan bahwa anak-anak Anda tidak mampu berperilaku positif. Dalih mengajar anak-anak bahwa mereka tidak harus bertanggungjawab atas perilaku mereka. Anda mengajar mereka bahwa perilaku negatif itu dibenarkan sepanjang Anda dapat memunculkan sebuah alasan baik.
Anak-anak tertentu berperilaku negatif karena orangtua membuat dalih-dalih. “Ia cuma capek saja.” “Ia belum makan.” “Ia mengantuk.”  Kadang-kadang kita mengajar anak-anak kita untuk berperilaku negatif dengan membuat dalih-dalih bagi mereka.
Kalau Anda membuat dalih, Anda memberi alasan kepada anak-anak Anda untuk berperilaku negatif di masa depan. Mereka akan menggunakan dalih ini untuk membantah dan menghindari tanggung jawab. Banyak remaja diajar untuk berlaku tidak bertanggung jawab oleh orangtua mereka. Ketika remaja-remaja ini masih lebih muda masih dapat dibentuk, orangtua mereka membuat dalih bagi mereka. Banyak orangtua berpendapat bahwa membuat dalih itu merupakan hal yang tepat dilakukan orangtua. Ternyata tidak.

Jangan Bertanya “Mengapa?”
Salah satu cara untuk mencegah membuat dalih dan sekaligus mengajarkan tanggungjawab adalah menghindari pertanyaan “mengapa”. Bertanya mengapa biasanya akan menjurus pada perdebatan-perdebatan atau perbantahan panjang. Bertanya mengapa malah membuat anak Anda terpusatkan perhatiannya pada perilaku negatif itu.
Apa yang perlu Anda lakukan adalah menolong anak Anda untuk melukiskan apa yang telah dilakukannya. Jadi, apabila anak Anda mencoba memberitahu Anda mengapa ia melakukannya, hentikanlah ia. Katakan, “Ibu tidak bertanya kepadamu mengapa kamu melakukannya. Ibu minta supaya kamu memberi tahu apa yang kamu lakukan.”  Jangan membiarkan mereka memberi tahu Anda mengapa mereka melakukannya.


Buatlah Komitmen

Konsistensi merupakan salah satu faktor paling penting dalam menentukan keberhasilan menjadi orangtua. Konsistensi mengajarkan apa yang kita harapkan dari anak-anak. Memahami pentingnya konsistensi akan membuat Anda bersikap lebih konsisten. Konsistensi merupakan ungkapan kasih dan perhatian. Kalau Anda bersikap konsisten, anak-anak Anda akan memiliki disiplin diri yang lebih baik.
 Inkonsistensi menyebabkan anak-anak menjadi tidak yakin akan dirinya sendiri. Sikap tidak konsisten membuat anak-anak merasa tidak penting. Kebingungan ini akan memaksa mereka untuk berbohong, memanfaatkan situasi-situasi yang tidak jelas. Sejumlah tertentu kenakalan wajar-wajar saja terjadi pada setiap anak. Jika Anda menanggapi kenakalan secara konsisten, kenakalan itu akan berkurang. Kalau Anda menanggapi kenakalan itu secara tidak konsisten, kenakalan itu akan meningkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar