“Dinda, ayo bereskan meja makan.”
“Aku tidak mau membereskan sekarang.”
“Dinda, hari ini kan tugasmu membereskan meja makan.”
“Iya, tapi nanti sore saja.”
“Sekarang sudah waktunya, Dinda, ayo.”
“Aku mau nontonTV dulu.”
“Bereskan meja makan sekarang, nanti Ibu kasih uang.”
“Kalo ditambah es krim, aku mau bereskan meja makan.”
Uang suap adalah usaha untuk memaksa seorang anak
yang nakal melakukan tindakan yang baik. Uang suap membuat anak-anak menjadi
sangat suka menyerang. Uang suap menempatkan kekuasaan di tangan anak-anak
Anda. Jangan menggunakan uang suap untuk membujuk anak Anda mengubah
pikirannya. Anda akan mendorongnya untuk menjadi orang yang tidak menyenangkan
di masa depan. Banyak orangtua yang punya akal dan maksud baik secara kebetulan
atau secara tidak sengaja mengajar anak-anak mereka berperilaku keliru.
Sejumlah orangtua mulai memberi imbalan pada tingkahlaku yang tak dapat
diterima ketika anak-anak mereka masih sangat kecil.
Secara tidak didasari, selalu
memberikan imbalan atas prestasi atau hal-hal yang dilakukan oleh anak, bisa
menimbulkan rasa ketergantungan pada diri sang anak. Hal itu bisa berdampak
kurang baik, karena jika dibalik itu semua ada iming-iming yang
berbau materi, akan mengajarkan anak mengharapkan pamrih atas sesuatu yang
memang seharusnya mereka lakukan atau mereka capai. Sungguh menyedihkan, jika
seorang anak selalu berharap mendapatkan imbalan uang jika dimintai tolong.
Sebisa mungkin ajarkan kepada anak, untuk menerima tanggung jawab sebagai
bagian dari anggota keluarga. Jika mereka tumbuh tanpa memiliki tanggung jawab,
bagaimana mereka bisa diterima dengan mudah di dalam pergaulan baik di rumah,
sekolah, kantor sampai pergaulannya.
Berteriak, Merengek, dan
Mengamuk
Pernahkah
anda mengalami situasi di mana anak balita anda mengamuk karena keinginannya
tak dituruti? Yang paling memalukan kalau kejadiannya di tempat umum seperti di
mal atau supermarket. Orangtua sering merasa malu dan salah tingkah lantaran anaknya
menangis menjerit-jerit, berteriak-teriak marah bahkan memukul-mukul atau
menggigit ibunya gara-gara permintaannya untuk beli mainan atau makanan
kesukaannya tak dituruti. Orangtua jadi bingung menghadapinya, dan seringkali
terbawa emosi sehingga akhirnya menjewer telinga atau mencubit paha si anak
(yang biasanya justru akan membuat anak makin ngamuk).
Kejadian
di rumah tak kalah seru: anak mengamuk, menjerit, melempar, menendang,
mmemukul, menggigit dan mencakar atau membanting barang karena keinginannya
tak segera dipenuhi. Anak menjadi begitu sulit dikendalikan sehingga bikin
kepala seperti mau pecah. Apa penyebab perilaku yang seperti ini?
Saya yakin ada banyak sekali orangtua yang
mengalami kejadian serupa, mungkin bukan hanya sekali tetapi berkali-kali, dan
mereka tetap bertanya-tanya tentang bagaimana cara mencegah kejadian ini agar
tak terulang lagi. Apakah Anda akan mengoreksi kelakukan buruk anak dengan
menjerit, memarah-marahinya atau memukul bokongnya di depan umum? Apakah Anda
akan bicara dengan tenang kepada anak dan mencoba mencegahnya bertingkah buruk
di depan publik? Apakah Anda merasakan dorongan yang kuat untuk berlari ke
tempat yang jauh bersama anak itu?
Anak-anak adalah pakar dalam membohongi orangtua
mereka. Sebagian besar bakat itu merupakan bawaan kodrat. Sebagian lagi, kita
ajarkan kepada mereka. Menyerah kepada amukan dan tuntutan-tuntutan lain,
menyebabkan perilaku-perilaku negatif ini makin meningkat di masa depan. Kalau
seorang anak mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mengamuk, ia belajar
bahwa ia akan mendapat imbalan bagi perilaku negatifnya. Sekali dipelajari,
pola ini sulit diubah. Anda dapat mengubahnya dengan cara tidak menyerah.
Hentikan imbalannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar