Pujian yang diberikan orangtua
harus menunjuk pada perilaku anak. Jadi, ketika memuji, orangtua menyebutkan
secara spesifik perilaku anak yang mana yang sedang dipuji. Contoh : “Mama
senang sekali kamu membersihkan tempat tidurmu sendiri, kamu memang anak yang
bertanggung jawab,” “Terima kasih, kamu membantu menata meja makan.”
Yang perlu diperhatikan,
pujian hendaknya tidak mengandung kata-kata yang bisa merusak rasa senang anak
ketika menerima pujian, yaitu kata-kata yang mengurangi perasaan berharga anak.
Pujian yang buruk misalnya : “Nah, begitu dong, itu baru anak manis,” “Kan
sudah dari dulu mama bilang kamu bisa,” “Bagus, tapi seharusnya kamu bisa
mengerjakannya lebih rapi,” “Kamu rajin, sama seperti kakakmu.”
Pujian harus diberikan ketika
anak sedang melakukan perilaku yang baik, atau tepat setelah anak melakukan
perilaku baik itu. Anak-anak senang mengetahui bahwa orangtuanya
memperhatikannya ketika sedang berusaha melakukan apa yang baik. Pujian
sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak telah berhasil melakukan apa yang
baik, melainkan juga ketika anak sedang mencoba berusaha atau sedang memulai
melakukan sesuatu yang baik.
Pujian yang seperti ini akan
memotivasi anak. Sebagai contoh, orangtua bisa memuji ketika melihat anaknya
sedang menepuk-nepuk tempat tidurnya dengan tebah lidi, sekalipun belum terlihat
hasilnya, apakah tempat tidurnya jadi rapi atau tidak, orangtua tetap
menunjukkan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan anak, bahkan meski
ternyata hasilnya adalah tempat tidur yang spreinya masih kurang rata atau
mencuat di salah satu sisinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar