Saat orangtua tengah disibukkan dengan sebuah aktivitas atau kondisi lelah
setelah seharian bekerja lalu tiba-tiba anak terus rewel atau membandel, godaan
untuk menjewer, berteriak keras, membentak atau mengumpat anak kadang mulai
muncul di kepala orangtua. Menghukum sebagai bagian dari konsekuensi adalah dibenarkan tetapi
menghukum karena reaktif, atau aktivitas spontan tidaklah dibenarkan. Allah
menciptakan neraka selain surga adalah bagian dari konsekuensi yang
diciptakan-Nya untuk manusia. Dan ini jauh-jauh hari diinformasikan kepada
manusia. Hukuman spontanitas ini cenderung datang bukan dari kondisi pikiran
sadar orangtua tapi karena pikiran yang dipengaruhi emosi negatif orangtua.
Jika mau menghukum, berikan peringatan atau sosialiasi terlebih dahulu dan
katakan jika satu saat ia melakukan perbuatan yang merugikan orang lain kembali
maka ia akan mendapat konsekuensinya. Itupun sebaiknya perkataan ini dilakukan
setelah kondisi emosi anak dan Anda sudah reda.
Lakukan Secara Bertahap
Karena sebagian anak belum terampil menumpahkan perasaannya secara baik
maka kadang anak-anak ini menyalurkannya dengan cara yang membuat orang
disekitarnya tidak nyaman. Karena itu peratikan perasaan mereka, bantulah
mereka untuk mengeluarkan emosi negatifnya secara tepat. Orangtua harus
memahami bahwa perasaan-perasaan negatif yang dirasakan anak adalah sesuatu
yang wajar dan bukan hal yang harus dimusuhi. Semua anak berhak merasakan
sedih, semua anak berhak merasakan lapar, kecewa, bosan dan terkadang semua
anak juga boleh merasakan marah. Perasaan-perasaan ini adalah normal, cara
mereka melampiaskan perasaan negatif itulah yang seharusnya kita terus latih.
Jika anak sudah mengetahui cara menyalurkan emosi negatif dengan cara yang
benar tapi anak enggan melakukannya dan malah bertindak negatif, berikan ia
peringatan bahwa Anda tidak menerimanya dan katakan bahwa tidak ada yang
melarang anak menangis, marah, sedih dan sebagainya asal dilakukan tidak
berlebihan dan merugikan orang lain. Jika anak masih melakukannya setelah
diberi peringatan, bicarakan dengannya tentang konsekuensi yang mungkin ia
dapatkan. Jika seorang kakak misalnya memukul adik, rasanya tidak adil jika
Anda langsung memberikannya hukuman dengan dicambuk. Bahkan hukum Allah saja
diturunkan ke dunia secara setahap demi setahap. Apakah kita, orangtua, sebagai
manusia biasa hendak mempraktikkan kekuasaan dzalim yang melampaui kekuasaan
Allah?
Cari Hukuman yang Tak Menyakiti Anak
Menyakiti siapapun, apalagi menyakiti anak sendiri yang dilahirkan dengan
darah dan dibesarkan dengan keringat adalah perbuatan yang sangat tidak
diterima. Tetapi, jika anak bertingkah merugikan orang lain sampai keterlaluan,
tentu ini harus ditindak! Konsekuensi sebagai bagian dari ketegasan harus
ditegakkan! Hukuman tentu tetap perlu diberikan, tetapi bukan berarti kita
diperbolehka bertindak sewenang-wenang. Ada banyak konsekeunsi alternatif yang
dapat diberikan agar anak dapat memahami perbuatannya yang merugikan tidak
diterima:
a. Tidak mendekati anak untuk sementara waktu
b. Tidak mengajak anak ke tempat tertentu
c. Tidak mengajak mereka berbicara selama beberapa saat
d. Tidak memperbolehkannya melakukan hal-hal yang
diinginkannya atau mengambil sementara hak-hak istimewanya
e. Meminta dia
tinggal di kamar selama beberapa lama. Cara ini cocok bagi anak usia di atas
tiga tahun, yang sudah bisa menerima hukuman sebagai konsekuensi perbuatannya.
Untuk anak dua tahun, biarkan ia sampai tenang lebih dahulu, lalu setelah ia
tenang maka Anda boleh memujinya dan mengungkap ketidaksetujun Anda pada
perbuatan yang tidak Anda terima.
f. Tunjukkan ekspresi ketidaksetujuan anda: mimik sedih,
kecewa pada anak adalah diberbolehkan. Dan juga katakan dengan jelas, tegas dan
singkat (tidak berpanjang-panjang, apalagi mengulang-ulang!) kekecewaan Anda
padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar