Makna Konsistensi Bagi Anak-Anak


Konsistensi adalah unsur yang paling penting dalam hubungan Anda dengan anak-anak Anda. Namun, walaupun merupakan unsur paling penting, unsur itulah yang paling sering dihilangkan. Bila Anda ingin mengubah satu hal dengan cara Anda mendisiplinkan anak-anak Anda, satu hal itu adalah bersikaplah konsisten. Konsistensi berarti tindak lanjut. Atasilah suatu kenakalan persis dengan cara yang sama setiap kali terjadi. Hal ini berlaku terutama dalam menghadapi kenakalan-kenakalan yang membandel. Kalau Anda bersikap konsisten dengan salah satu anak, anak-anak yang lain belajar mengamatinya. Bila suatu kenakalan muncul, hadapilah saat itu juga. Jika Anda membiarkannya, Anda akan menanggung resikonya kemudian. Anak-anak suka mencari kesempatan untuk menghindari hukuman atas kenakalan-kenakalan mereka. Adalah kewajiban Anda untuk mengusahakan agar mereka tidak lolos.
Anak-anak belajar membuat keputusan dengan meramalkan akibat tindakan mereka. Mereka harus mampu melihat hubungan sebab akibat antara cara mereka bertingkahlaku dan apa yang terjadi pada mereka. Anak Anda harus mampu meramalkan reaksi Anda terhadap perilaku mereka.

Konsistensi di Antara Orangtua
Konsistensi menciptakan rasa damai di hati anak. Konsistensi juga memudahkan orangtua di saat menghadapi situasi yang sulit. Banyak orangtua mengeluh tak tahu anaknya mau diapakan lagi, padahal semua cara sudah dicoba. Dalam hal ini, tidak jarang, kesalahan orangtua adalah mencoba terlalu banyak cara dalam jangka waktu yang singkat. Perubahan cara dalam waktu singkat itu bisa ditangkap oleh anak sebagai inkonsistensi.
Sebagai contoh, untuk mengatasi anak yang suka ngamuk kalau marah, Anda mungkin mencoba dengan memukulnya. Esok harinya, Anda coba mengurungnya di kamar. Kali lain, Anda meneriakinya. Cobalah menggunakan strategi yang efektif dengan cara menerapkannya secara konsisten selama seminggu. Misalnya, setiap kali anak Anda ngamuk, Anda akan mengurungnya di kamar. Kali berikut, kalau dia mulai ngamuk lagi, katakan dengan tenang apa yang akan terjadi kalau dia ngamuk lagi. Anak akan belajar. Jadi, pertahankan peraturan ini.
Sikap tidak konsisten juga bisa terjadi antara ayah dan ibu. Ini harus dihindarkan. Anak bisa mencoba-coba menggunakan taktik mengadu domba ayah dan ibunya. Karena itu, sebaiknya orangtua sudah mempunyai kesepakatan tentang peraturan yang harus dijalankan di rumah. Jika Anda marah, anak tak akan minta pembelaan ayah atau ibunya.



“Lima Menit Lagi,” “Mungkin,” dan “Lihat Saja Nanti”
Banyak orangtua takut mengatakan “tidak”. Banyak yang tidak mengatakan “tidak” hanya karena mereka tidak ingin timbul pembantahan. Ada orangtua yang merasa malu atau bersalah kalau anak mereka marah-marah. Ada juga orangtua yang tidak ingin mengambil tindakan tegas. Jadi banyak orangtua yang menggunakan ungkapan-ungkapan “mengambang”.
Pertanyaan mengambang itu hanya menunda hal yang tak dapat dihindari.  Kadang-kadang menggunakan pernyataan-pernyataan “mengambang” tidak berbahaya. Namun jika terlalu sering, anak Anda akan merengek dan memohon-mohon, berharap Anda akan menyerah. Mengajar anak-anak kadang-kadang dapat berarti mengatakan tidak sekali-kali, akhirilah sebuah pernyataan “barangkali” dengan sebuah kata “tidak”. Boleh jadi anak-anak tidak suka mendengarkan ini. Tidak mengapa. Mereka tak akan mati. Bersikaplah konsisten. Dalam jangka panjang tindakan itu akan berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar