Memberi Pengertian pada Anak

Perlu dipahami, dalam meniru, anak akan meniru apa yang dianggapnya paling menarik. Entah dari ayahnya atau ibunya maupun dari model lain dan tokoh di TV. Cuma, bila yang ditiru anak adalah hal yang tak baik, maka dampaknya tentu akan tak baik pula bagi perkembangan anak. Misalnya, meniru omong kotor. "Tentunya kalau anak meniru yang tak baik terus menerus, lingkungan pun akan memberi sanksi. Misalnya, anak dijauhi oleh teman-temannya. 
Nah, jika orangtua merasa bahwa apa yang ditiru anak itu tak baik atau tak sesuai dengan apa yang diajarkan pada anak, maka sebaiknya diberi pengertian. "Anak usia batita sudah bisa mengerti, kok, kalau diberi tahu. Tapi harus dengan kata-kata yang sederhana, tak perlu panjang lebar." Misalnya, bila orangtua mendengar anak sering bicara "gue-elu" dan menganggap hal itu tak baik, maka beritahukan, "Ade sebaiknya jangan ngomong  'gue'. Memang Ade tahu artinya 'gue'  itu apa? Kalau Ade ngomong  sama ayah dan ibu tak boleh pakai kata 'gue' , ya."
Namun orangtua tak cukup hanya sekali itu saja memberi tahu langsung anak bisa mengerti, tapi harus dilakukan berulang-ulang. Selain itu, orangtua juga harus konsisten. Kalau anak dilarang omong "gue"  tapi ternyata orangtua bicara di telepon dengan temannya menggunakan kata "gue" , tentu anak akan meniru. "Jadi tak bisa disalahkan juga si anak."
Dalam hal meniru yang berbahaya, misalnya, mencoba terbang seperti yang dilakukan Superman, jangan sampai orangtua kelihatan terlalu panik atau berlebihan. "Karena reaksi orangtua yang demikian akan membuat anak merasa excited  atau tertarik. Dipikirnya, 'O, Mama akan seperti itu, toh.' Lain kali anak akan kembali mencoba lagi." Sebaiknya lakukanlah dengan membujuk, "Ayo, Abang turun, dong. Nih, Mama punya sesuatu."
Mungkin anak akan menentang, karena di usia ini memang sedang masa-masanya membangkang. "Ini wajar saja, karena meniru dan masa negativistik biasanya dekat dan terkadang overlap juga. Ini berkaitan pula dengan kepercayaan diri, pembentukan konsep diri atau self-nya bahwa dirinya bisa melakukan apa yang dilarang orangtuanya. Dia mulai mencoba sebetulnya apa yang dikatakan orangtuanya." Nah, terhadap anak yang demikian, orang bisa mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan yang disukai anak. Misalnya, "Sini, Mama punya buku cerita bagus. Mau enggak? Nanti mama ceritakan, lo."
Bila anak sudah beberapa kali ditegur namun ia masih saja meniru yang tak baik, boleh diberi punishment. Sebaliknya, bila anak mencoba meniru hal-hal positif, orangtua harus mendukung dan memberinya pujian. Ini akan membuat anak semakin terdorong untuk mengulanginya atau terus meniru hal tersebut. Malah bukan tak mungkin akan menumbuhkan minat anak pada hal tersebut. Misalnya, orangtua senang membaca dan sering mengajak anak membaca, lalu memberinya pujian, maka dapat menimbulkan minat anak untuk membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar