Kadang anak juga akan meniru perilaku dari jenis kelamin yang berbeda.
Misalnya, anak laki-laki meniru tingkah laku ibunya dan anak perempuan meniru
tingkah laku ayahnya. Sebenarnya ini nggak apa-apa, karena anak juga perlu tahu
bagaimana ibu dan ayahnya. Jangan sampai anak hanya tahu ibunya saja atau
ayahnya saja. Yang penting, jangan sampai anak perempuan lebih sering meniru ayahnya dan
anak lelaki malah cenderung meniru ibunya. Karena proses peniruan ini nanti
arahnya ke proses identifikasi di mana anak beridentifikasi dengan jenis
kelamin yang sama.
Biasanya terjadi di usia TK atau sekitar 4-5 tahun. Nah, kalau anak lebih sering meniru dari jenis kelamin berbeda, sebaiknya orangtua mengarahkan. Misalnya, "Aduh, Mbak pakai sepatu Ayah. Memang Ayah gagah, ya! Mbak mau seperti Ayah?" kemudian alihkan perhatiannya pada hal atau pekerjaan yang sesuai jenis kelaminnya, "Eh, Mbak, Ibu ingin dibantu, lo. Yuk, ikut Ibu ke dapur, bantu Ibu potong sayur." Begitupun bila anak lelaki, misalnya, senang berdandan. Ayah bisa mengatakan, "Wah, Abang ingin dandan seperti Ibu, ya? Coba, nih, Abang pakai baju Ayah. Enak mana, sih?"
Biasanya terjadi di usia TK atau sekitar 4-5 tahun. Nah, kalau anak lebih sering meniru dari jenis kelamin berbeda, sebaiknya orangtua mengarahkan. Misalnya, "Aduh, Mbak pakai sepatu Ayah. Memang Ayah gagah, ya! Mbak mau seperti Ayah?" kemudian alihkan perhatiannya pada hal atau pekerjaan yang sesuai jenis kelaminnya, "Eh, Mbak, Ibu ingin dibantu, lo. Yuk, ikut Ibu ke dapur, bantu Ibu potong sayur." Begitupun bila anak lelaki, misalnya, senang berdandan. Ayah bisa mengatakan, "Wah, Abang ingin dandan seperti Ibu, ya? Coba, nih, Abang pakai baju Ayah. Enak mana, sih?"
Jadi, ayah memberi tahu kepada anak lelaki dan ibu yang memberi tahu anak
perempuan. Di situlah sebetulnya peran ayah
dan ibu pada anak yang berjenis kelamin sama dengan orangtuanya. Agar si anak
nantinya beridentifikasi dengan orangtua yang berjenis kelamin sama dengannya.
Namun begitu, tak berarti harus ayah terhadap anak lelaki dan harus ibu
terhadap anak perempuan. Baik ayah maupun ibu sama-sama bisa melakukannya.
Misalnya, "Kenapa, sih, Abang ingin dandan seperti Ibu? Ayah gagah, lo.
Abang pasti juga gagah kalau dandan seperti Ayah." Atau, bisa juga ibu
mengalihkan, "Nah, sekarang Ibu lagi dandan. Coba Abang pura-pura jadi
bapaknya. Nih, Abang pakai baju Ayah."
Sebenarnya, pada setiap anak ada kecenderungan meniru dari jenis kelamin
yang berbeda. Ini tak berpengaruh apa-apa pada perkembangan anak. Maksudnya,
anak tak akan sampai jadi homo atau lesbian. Karena bila anak sudah masuk sekolah,
dia akan memasuki age gang di mana gang-nya itu terdiri dari anak yang berjenis
kelamin sama. Jadi, tetap ada balance.
Sepanjang ayah dan ibu
sama-sama memperhatikan anak, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jadi,
biarkan saja anak di masa batitanya meniru dan mencoba semuanya agar dia juga
belajar mengetahui peran masing-masing jenis kelamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar